Anaku generasi Al quran

February 03, 2017

Anakku Generasi Al Qur’an bukan generasi Gadget-an

 

Oleh: dr Vivi-dokter parenting

Gadget adalah hal yang sudah sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Semua kalangan sebagian besar telah memilikinya menjadi salah satu alat bantu yang  “sangat” penting dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa dilihat apabila ada seseorang yang gadgetnya tertinggal dirumah maka tanpa berpikir panjang maka orang tersebut akan segera memutar balik kendaraannya untuk bisa kembali kerumah dan mengambil gadget kesayangannya agar tidak tertinggal info yang up to date. Tetapi apakah hal yang sama akan terjadi apabila  yang tertinggal adalah Al Qur’an? Sebuah kitab yang semua orang mengagungkannya dan menyetujui bahwa Al Qur’an merupakan mukjizat yang hebat sepanjang sejarah.Nah, dalam kehidupan sehari-hari apakah  yang kita inginkan anak-anak yang familiar dengan gadget atau yang familiar dengan Al Qur’an? Itu merupakan pilihan. Semua pasti ada plus dan minusnya. Bahkan ada seorang ibu yang mengatakan, “dok, anak saya saya beri Gadget tapi isinya ada Al Qur’annya lho dok” hehehe sekali lagi ini juga pilihan.

Nah, marilah kita sekarang “iqro” gadget kita dari berbagai sisi, seperti kata pepatah mengatakan Life is just like two side of coin, bahwa hidup bagaikan dua  sisi mata uang, yang artinya segala sesuatu bisa memberikan manfaat sedangkan di sisi  lain bisa mendatangkan masalah. Dalam perkembangan gadget yang sangat dashyat dimana setiap bulan terus bermunculan berbagai macam tipe gadget yang membawa kemudahan bagi ummat manusia. Tidak perlu bingung mencari telepon umum, atau pergi kewartel seperti beberapa tahun silam. Sekarang tinggal ambil, tekan dan kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan, seperti menghubungi seorang kerabat, kenalan, rekan bisnis. Gadget pun telah dimiliki oleh berbagai kalangan dari kalangan atas dengan berbagai macam aplikasi modern yang disajikan sampai  dengan gadget terjadul yang Cuma bisa untuk sms dan telepon. Tapi yang pasti Gadget sudah menjadi kebutuhan pokok yang  tidak tergantikan, bahkan ada beberapa ABG rela tak makan asal bisa beli pulsa.

Sisi positif dari Gadget seperti yang disebutkan diatas Gadget dapat mempermudah kehidupan manusia, 1) bisa berkomunikasi maksimal  bisa melalui sms dan telepon 2)bisa searching  informasi yang luas dari seluruh dunia 3)bisa sebagai alat bantu menstransfer sejumlah dana tanpa perlu antri bercapek-capek di bank 4)bisa sebagai hiburan karena banyak sejumlah aplikasi menyediakan games. Kalau melihat sisi positifnya saat digunakan dengan benar maka fungsi gadget tidak bisa dipungkiri sangat membantu kegiatan manusia.

Seperti yang disebutkan diatas bahwa segala hal didunia ada juga sisi lain yang perlu kita cermati agar tidak salah langkah terutama kepada anak-anak kita. Gadget dengan berbagai aplikasi yang ditawarkan terutama di aplikasi games yang paling sering dibuka oleh anak-anak, menyimpan dua sisi makna. Makna positip game yang sering dimainkan oleh anak-anak bisa menghadirkan suasana segar kembali setelah anak-anak melewati kegiatan belajar yang panjang. Istilah kerennya sering disebut sebagai “refreshing” (re-fresh) filosofinya hadirnya kebugaran kembali setelah mengerjakan aktivitas tertentu disela-sela kegiatan utama. Apalagi sistem belajar anak-anak sekarang yang dimulai sejak pagi sampai  sore hari, bermain game digadget menjadikan si anak dengan mudah dapat bermain di saat itu juga, tanpa perlu mengumpulkan teman-teman yang lain, bisa juga dengan waktu yang terbaik ia dapat melampiaskan semua rasa yang ia rasakan seharian. Yang perlu diwaspadai orangtua adalah apabila gadget dengan fasilitas internet dan si anak dapat dengan bebas  mengakses game online yang mana akibat ini yang perlu diwaspai orangtua.

Game online dengan berbagai aplikasi yang ditampilkan di gadget memberikan kepuasan tersendiri bagi anak yang mana cara kerjanya dalam setiap games adalah memberikan mekanisme reward and punishment. Mekanisme reward yang disodorkan oleh game yang ada di gadget adalah setiap kali anak dapat mencapai level tertentu maka ia bisa mendapatkan reward atau hadiah, bahkan ada berbagai macam bonus disela-sela permainan yang ini menjadikan anak terus penasaran dan terus ingin bermain karena termotivasi oleh reward, bonus bahkan jackpot didalamnya. Selain itu ada mekanisme punishment didalam game, saat ia gagal melewati suatu rintangan maka ia akan tetap berada di level tersebut, hal inilah yang membuat anak penasaran untuk memulai dan memulai lagi agar bisa pindah level, pikirannya telah fokus hanya bagaimana ia bisa berhasil melewati setiap levelnya. Selain itu saat bermain game di gadget anak juga mempunyai otoritas penuh dalam memilih pilihannya, ia bebas menekan tombol apa saja, tanpa adanya intervensi dari luar, hal ini menjadikan anak merasa berharga , merasa mampu, mempunyai kapasitas dan dapat membangun kepercayaan anak. Dengan berbagai macam tantangan yang ada pada games maka tidaklah mengherankan jika anak-anak kita akan sangat menyukai game yang ada di gadget , bahkan mereka sampai merasa bergantung bahkan sampai pada level kecanduan oleh games tersebut.

Game pada gadget mengasyikkan, setiap kata-kata yang muncul selalu membuat anak ingin mencoba dan mencoba lagi, ada kata-kata “WELCOME YOU ARE INVITED  TO GREAT ADVENTURE , maka si anak akan mengklik tombol START, langsung akan disusul dengan kata-kata CONGRATULATION. YOU WIN, YOUR SCORE 5000, Level 1 is completed maka akan muncul rasa berharga pada anak  akan menekan tombol NEXT LEVEL. Demikian seterusnya disetiap level ananda akan merasa sensasi yang luar biasa dia bisa melihat score perolehannya disetiap level dan ia akan bergembira, menghentak-hentakkan kakinya, berteriak, tertawa. Bahkan seandainya anak kalah dalam suatu level pun, dan muncul tulisan SORRY, YOU LOSE YOUR SCORE is 20.000, maka anak akan berpikir bahwa ia harus lebih fokus, harus lebih cermat dan hati-hati dalam bermain, ia akan semakin tertantang dan tertantang untuk memenangkan level yang belum terselesaikan.apalagi saat ia kalah maka sistem dari game tersebut akan menampilkan HIGH SCORE yang menampilkan peringkat nama-nama yang telah memainkan permainan tersebut, hal ini memacu anak untuk bisa masuk dalam peringkat yang tinggi sebagai pemeang dalam permainan tersebut. Game terutama game online didesain menjadi suatu permainan yang cukup sulit namun menantang , para pemain akan diberikan “sedikit kemenangan”  yang membuat mereka akan terus tertantang untuk menyelesaikan game setiap levelnya. Hal-hal yang membuat game online menjadi menarik yaitu ada score tertinggi secara alamiah ada keinginan setiap manusia untuk menguasai maka itu pun muncul pada anak ingin mencapai kebutuhan menguasai dengan cara menjadi pemenang dalam permainan ini dengan mencapai high score, yang kedua adalah Beating the games (menaklukkan permainan), Need of power kebutuhan untuk menguasai juga permainan degan mengalahkan lawan-lawannya menjadikan anak selalu semangat untuk melaju ke permainan berikutnya kemudian dilanjutkan dengan discovery yang mana setiap penemuan baru yang didapatkan anak memuaskan rasa “need of achievement” yaitu keinginan untuk berprestasi.Hal inilah yang menjadikan anak akan bertahan lama saat bermain dengan game di gadget.Masalah yang menyertai permainan game pada gadget ini adalah waktu yang lama yang dipakai saat sekali permainan  dan frekuensi (tingkat seringnya game online).

Tantangan lain yang perlu diwaspadai saat anak berlama-lama bermain game di gadget miliknya atau milik kita adalah masalah pornografi dimana game-game sekarang yang ada banyak sekali diselipi adegan-adegan yang tidak pantas dilihat oleh anak apalagi dalam jangka waktu yang panjang dan berulang-ulang. Maka adegan atau kejadian itu akan menjadi program menetap pada bawah sadar anak dan yang lebih dikhawatirkan lagi adalah anak ingin menyalurkan semua hasrat yang sudah pernah ia lihat, dengar dan mainkan di game pada gadget dan berusaha menyalurkannya dalam kehidupan nyata.Jadi apabila pornografi menjadi konsumsi anak-anak kita, maka nafsu birahi dan hasrat seksual anak akan muncul lebih dini daripada usia yang seharusnya. Kriteria game yang mengandung pornografi adalah apabila game tersebut menampilkan tokoh dengan pakaian yang kurang pantas, terbuka auratnya, ada pose-pose yang menampilkan penonjolan anggota tubuh, adegan yang menampilkan adegan yang mengundang hasrat seksual seperti berciuman, berpelukkan, games yang memberikan hadiah atau skor berupa wanita cantik, bahkan mendapat point apabila dapat memperkosa wanita paling banyak. Naudzubillah, itulah kenyataan isi game online yang sering dipegang oleh anak-anak kita.

Tantangan berikutnya yang menyertai anak-anak saat bermain game adalah adanya kekerasan dalam game, pernah suatu liputan menayangkan adanya pembunuhan di Jerman yang menewaskan 17 orang, dan pelakunya ternyata seorang anak laki-laki berusia 17 tahun yang sering bermain game yang mengandung kekerasan. Seorang anak yag sering memainkan game yang mengandung kekerasan, pembunuhan, perampokan akan menyimpan semua memori tersebut didalam otaknya  yang mana akan mempengaruhi perilaku dalam kesehariannya. Selain itu saat anak fokus bermain game dengan gadgetnya maka perkembangan otak anak bagian forntal yaitu Prefrontal cortex tidak akan berkembang maksimal yang mana ini akan berakibat anak menjadi kurang empati bagi sekitarnya, tidak mendengarkan saat ayah atau bundanya berbicara kepadanya, bingung saat diminta memutuskan suatu masalah, kurang bijaksana dan cenderung bersikap agresif kepada sekitarnya. Untuk itu memberikan Gadget kepada anak adalah plihan orangtua, hal-hal diatas adalah berbagai dampak yang bisa terjadi pada anak saat kita memberikan gadget kepada anak.

Sebagai sebuah keluarga muslim tentunya kita menginginkan anak-anak kita bisa menjadi anak-anak yang bisa menjadi penyejuk hati dan mata bagi kedua orangtuanya, bisa menjadi pembuka pintu surga bagi kedua orangtuanya. Pertanyaan mendasarnya lebih banyak mana kita mendekatkan anak kepada gadget atau Al Qur’an? Yang mana Al Qur’an merupakan suat petunjuk yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya didalam terdapat SOP “Standar Operating Procedure” yang lengkap yang mana bisa membimbing setiap manusia untuk bisa mencapai surgaNya.  Dan Mengapa juga Madrasah pertama bagi anak adalah ibu. Dan dari keluarganyalah anak akan mempunyai karakter yang mendasar yang akan ia gunakan dalam kehidupannya kelak. Itulah mengapa seorang ibu dikatakan mempunyai surga. Begitu mulianya seorang ibu sampai-sampai dianugerahkan kepadanya surga yang luar biasa. Surga itu dikatakan terletak dibawah telapak kaki ibu. Kenapa dikatakan surga ada dibawah telapak kaki ibu? Kenapa  bukan ditelapak tangan agar memudahkan? Artinya saat melangkah kita menggunakan organ tubuh yang bernama kaki, dimana saat kita menapakkan kaki kita di tempat yang berpasir dan kita menoleh kebelakang  maka kita akan melihat adanya jejak-jejak kaki yang tertinggal dibelakang. Itulah gambaran setiap tindakan yang diberikan ayah dan ibu didalam keluarga akan meninggalkan jejak-jejak dalam otak anak yang mana jejak tersebutlah yang akan menentukan si anak apakah ia nanti akan menemukan surgaNya atau tidak. Jejak yang kita tinggalkan berupa segala kebiasaan, perilaku yang terus diulang-ulang dalam keluarga. Lebih banyak manakah kita mengenalkan gadget pada anak atau Al Qur’an ? itu pun semua terpulang kepada kita semua.

Apabila semua orang tahu begitu indahnya pahala yang telah dijanjikan Allah saat setiap orang yang mengajarkan al Quran ? tentulah semua orang akan berlomba-lomba untuk mengajarkan Al Qur’an. Seharusnya setiap anak bisa membaca Al Quran adalah hasil pembelajaran dari kedua orangtuanya, sehingga setiap kali si anak membaca Al Qur’an maka pahalanya akan terus mengalir kepada kedua orang tuanya bahkan apabila sang orangtuanya telah terbungkus kain kafan didalam tanah pun pahala akan terus mengalir kepada kedua orangtuanya. Pentingnya menanamkan kepada anak Cinta Al Qur’an, Al Ghazali mengatakan menyatakan “anak adalah amanah di tangan ibu bapaknya. Hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya. Apabila ia dibiasakan pada suatu yang baik dan dididik, niscaya ia akan tumbuh besar dengan siat-siat baik dan akan bahagia dunia akherat. Sebaliknya, bila ia dibiasakan dengan tradisi-tradisi buruk, tidak diperdulikan seperti halnya hewan, niscaya ia akan hancur dan binasa. Masa kanak-kanak adalah pondasi awal dalam pembentukkan karakter anak. Para Ulama mengatakan bahwa ada penyakit berbahaya yang biasa hinggap pada kalangan anak kecil yang disebut penyakit “jununus shaba” (kegilaan masa kecil) yaitu suatu kecenderungan buruk, noda hitam kedurhakaan, dan bibit kesesatan pada anak yang berasal dari semaian hawa nafsu maupun setan. Penyakit ini kerap berjangkit pada anak yang tidak ditanamkan pendidikan yang baik sejak dini kepadanya. Sesuai surat At Tahrim: “hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api  neraka”. Fungsi utama pendidikan adalah melestraikan fitrah anak, yaitu fitrah kebenaran, fitrah tauhid, fitrah berperilaku positif dan sebagainya.  Seperti diketahui, sejak lahir anak telah diberikan insting atau kecenderungan kepada kebaikan yang tertanam sebagai suatu naluri pada dirinya. Fitrah anak tersebut melalui program pendidikan diharapkan tidak bengkok dan menyimpang namun lurus secara kokoh secara lestari.Al Qur’an menyatakan “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alah); ( tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (Itulah) agama Allah yang lurus, teteapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”  (Ar Ruum:30)

Pentingnya menanamkan Anak Cinta kepada Al Qur’an menurut Ibnu Khaldun merupakan pondasi seluruh kurikullum pendidikan di dunia Islam, karena Al Qur’an merupakan syiar agama yang mampu menguatkan akidah dan mengokohkan keimanan. Dengan menanamkan kecintaan Al Qur’an sejak dini maka kecintaannya akan bersemi pada masa dewasanya kelak, mengalahkan kecintaan anak kepada hal yang lain, karena masa kanak-kanak itulah pembentukkan watak yang utama.Para sahabat, begitu mereka menerima pendidikan Al Qur’an  dari Nabi Muhammad SAW mereka segera mendidik putra-putrinya dengan kitab Al Qur’an dan lahirlah revolusi generasi umat manusia. Seorang anak idealnya menerima pendidikan Al Qur’an sejak sedini mungkin dengan demikian ia akan cinta pada agamanya, kitabnya dan menjadikan nilai-nilai dalam Al quran menjadi nilai-nilai yang menjadi karakter yang mewarnai hari-harinya. Dibutuhkan peran orangtua yang luar biasa yang dapat memberikan tidak hanya kata-kata tetapi perbuatan yang akan dijadikan cerminan bagi anak untuk mencintai dan melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur’an.

Tips membentuk anak mencintai Al-Qur’an :

  1. Belajar mencintai Al-Qur’an
  2. Memahami fadilah Al-Qur’an
  3. Berinteraksi dengan ayat-ayatnya
  4. Menengok sejarah orang-orang yang mencintai Al-Qur’an

Semoga keluarga kita adalah keluarga-keluarga yang mencintai Al Quran.

http://doktervivi.com

Leave a reply
Apakah Anak harus Selalu Berbagi?Alamat Rumah Cerdas Malang

Leave Your Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *